08 Oktober 2007

Gereja Mesti Berperan dalam Dunia Politik

Harta dan kekayaan tidak ada padaku, apa yang ada padaku itulah yang akan kuberikan. Demikian Drs. Jakobus Camarlow Mayong Padang, anggota DPR RI dari PDIP, mengawali ceramahnya pada Seminar Gereja dan Politik yang dilaksanakan oleh Institut Gereja Toraja di jemaat Elim Rantepao pada tanggal 24 Agustus 2007. Lebih jauh diungkapkan, dalam pengalaman selama ini, pembaruan dimulai dari kelompok kecil diberbagai lingkup termasuk di dalam gereja.


  • "Untuk itu, saya tidak pernah kecewa kalau peserta diskusi sedikit, yang penting serius dan mau mengaplkikasikannya. Menurut pemahaman saya, politik merupakan alat atau sarana untuk menata kehidupan bersama dalam berbangsa, bernegara dan mermasyarakat. Dan elemen penting dalam dunia politik adalah kekuasaan. Dan mungkin kekuasaan itulah yang merupakan magnet utama di dunia politik. Kekuasaan itu kecenderungannya korup, apalagi kalau kekuasaan itu tanpa batas. Karena itu, kekuasaan perlu ada batasnya. Hawa dalam Kejadian 3:6 adalah kenikmatan yang dilihatnya, begitu juga dalam dunia politik ada kenikamatan yang dilihat yaitu kekuasaan. Orang katakan kotor karena perbuatan orang yang melanggar nilai-nilai etika. Dalam dunia politik ada AD/ART, namun orang akan berbicara kalau menyangkut kepentingannya secara pribadi sehingga orang akan lebih mengarah ke individualisme. Ketika Allah menciptakan dunia ini, memberi tanggungjawab kepada manusia untuk memelihara (taman Eden) tetapi terjadi penggaran. Karena adanya kekacauan sejak Adam dan Hawah maka Allah mengutus Anak-Nya yang Tunggal yaitu Yesus Kristus (Mat. 5:15-16) dan memberi tugas kepada manusia untuk menjadi garam dan terang guna menata ulang bumi ini yang sudah rusak oleh karena kesekahan manusia.Gereja harus masuk ke dalam dunia politik untuk menjadi garam yaitu mencegah pembusukan". Demikian pemahaman politik yang diungkapkan Jakobus Camarlow, yang juga selaku Sekretaris Fraksi PDIP di DPR RI dan anggota Majelis Gereja Toraja di Jakarta.
Anak manisDalam pengalaman berbangsa dan bernegara selama ini, Gereja sering menjadi “anak manis” di depan kekuasaan (penguasa) seperti yang terjadi pada sidang gerejawi tertentu, semua spanduk dan umbul-umbul berwarna kuning, lain kali warna merah [mengikuti warna partai politik fihak yang berkuasa]. Hal ini, kiranya tidak terulang lagi di masa mendatang. Tidak perlu kita (Gereja) diwarnai oleh dunia ini, tetapi seharusnya, kitalah yang harus mewarnai (menggarami) dunia. Untuk itu, ke depan Gereja mesti mengambil peran dalam dunia politik. Jadi kejadian ini kiranya tidak terulang lagi dimasa mendatang. Demikian saran Jakobus, yang juga mantan aktifis GMKI.


Model politik dalam Alkitab
Dalam mengurai Alkitab guna mendapatkan benang merah politik, Pdt. Dr. Zakaria J. Ngelow, dosen Pasca Sarjana STAKN Toraja, mengemukakan bahwa ada model-model keterlibatan politik dalam Alkitab. Misalnya, model Musa dan Elia - berpihak kepada pemberdayaan rakyat, atay yang terlibat dalam perjuangan kaum marjinal, mereka yang terpinggirkan. Yang lain, model Yusuf dan Daniel - berusaha masuk ke pusat kekuasaan. Di dalam Perjanjian Baru, ada model Yesus, yang lebih condong ke cara Musa dan Elia, dimana pelayanannya lebih banyak berpusat di Galilea, di kalangan rakyat kecil di pedalaman dan hanya sekali-sekali ke ibu kota Yerusalem. Untuk itulah, beliau memperkenalkan Yesus itu sebagai “The Galilean Jesus.”

Gereja terkontaminasi
Dalam sejarah perjalanan pelayanannya, Gereja sering terkontaminasi dunia politik. Gereja lebih banyak berbicara mengenai kepentingan dirinya sendiri daripada kepentingan umum. Ke depan ada tiga hal utama yang perlu dilaksanakan yaitu: Pertama, berpihak kepada keadilan. Kedua, berani menyuarakan suara profetisnya dan ketiga, gereja membina anggotanya untuk berkipra di dunia politik berdasarkan nilai-nilai kristiani. Demikian diungkapkan Pdt. G.G. Raru, M.Si yang sudah Emeritus tetapi masih bekerja penuh waktu sebagai anggota KPU Tana Toraja. Langkah majuKegiatan Seminar mengenai Gereja dan Politik ini diikuti 23 orang calon pendeta, para pendeta yang berasal dari Makale, Rantepao dan Palopo, tokoh Gereja. Seminar dilaksanakan oleh Institut Gereja Toraja. Kegiatan ini merupakan sebuah langkah maju dalam lingkup Gereja Toraja. Demikian kesan beberapa orang yang mengikuti kegiatan ini.

(Aleksander Mangoting)

1 komentar:

R. W. M Boong Bethony mengatakan...

Shalom.
Saya mendukung bahwa Gereja memang mesti terlibat atau setidak-tidaknya berfikir(menggumuli) persoalan-persoalan perpolitikan di tanah air.
Termasuk di dalamnya mempersiapkan kader-kader Gereja untuk Terjun dalam dunia Politik.
Selama ini gereja (lembaga) terlihat malu-malu (padahal mau) untuk mewarnai (menggarami) dunia politik dengan pandangan-pandangan (theologia politik, mungkin??) gereja tentang itu.
Padahal kalau di simak, begitu banyak Kader-kader Gereja yang terjun bebas dalam 'ruang' politik tanpa ada pemberdayaan secara khusus dari Gereja sebagai lembaga.
Sebagai suatu Gereja yang di utus Tuhan di tengah masyarakat sulawesi selatan, saya berfikir gereja toraja memiliki potensi dan daya untuk itu?
Mengapa tidak?

Semoga coretan ini bermanfaat.
Salam hormat dari perantauan.